Entri Populer

Mengenai Saya

Kamis, 15 Maret 2012

Ekosistem Karst


Ekosistem karst
GUA DAN PENGHUNINYA
                              Take nothing but picture, Kill nothing but the time, Leave nothing but footprint , (Mengambil tak lain hanya foto, membunuh tak lain hanya waktu, meninggalkan tak lain hanya jejak kaki), motto tersebut merupakan pegangan para penelusur gua yang pada intinya bagaimana menelusuri keindahan gua tanpa perlu merusak dan mengganggunya. Gua merupakan salah satu ciri khas kawasan karst. Kawasan karst atau gunung gamping merupakan kawasan yang unik serta kaya akan sumber daya hayati dan non hayati.
                      Indonesia mempunyai kawasan karst seluas 20% dari total wilayahnya. Salah satu kawasan karst di Indonesia yang dikenal sebagai Gunung Sewu pernah didengungkan akan dicalonkan sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) karena keunikannya.
                                  Batu gamping sebagai salah satu bahan baku pembuatan semen, dengan eksplorasi yang tidak bijaksana, lambat laun warisan dunia yang unik dan terbentuk ribuan tahun ini akan hilang dan hanya menjadi cerita anak cucu kita kelak, jika kita tidak ikut membantu melestarikannya.
Kehidupan Gua
Ciri-ciri Organisme Gua
Kondisi lingkungan gua yang telah kehilangan cahaya dan relatif stabil dengan suhu rendah dan kelembaban yang tinggi, berbeda dengan kondisi lingkungan di luar gua dimana semua kehidupan didapatkan dari sinar matahari, sehingga dianggap sebagai ekosistem tersendiri walaupun hanya seluas sistem perguaan tersebut. Kondisi lingkungan gua yang telah kehilangan cahaya dan relatif stabil dengan suhu rendah dan kelembaban yang tinggi, berbeda dengan kondisi lingkungan di luar gua dimana semua kehidupan didapatkan dari sinar matahari, sehingga dianggap sebagai ekosistem tersendiri walaupun hanya seluas sistem perguaan tersebut.
Berikut ini ciri-ciri organisme gua :
  1. Tubuh tidak berpigmen.
  2. Waktu reproduksinya tertentu.
  3. Mempunyai alat gerak yang ramping dan panjang (Jangkrik gua mempunyai antena 20-21 mm).
  4. Mempunyai alat indera (alat penggetar) yang sudah berkembang.
  5. Mata tereduksi atau hilang sama sekali.
  6. Metabolismenya lamabat karena kurangnya suplai makanan.
  7. Dapat beradaptasi dengan lingkungan kelembaban yang tinggi.

Zonasi Kehidupan Gua berdasar Adaptasi
           Gua digambarkan sebagai pulau dengan kumpulan organismenya masing-masing. Dalam klasifikasi klasik, organisme gua dibedakan berdasarkan
tingkat adaptasinya terhadap lingkungan gua yaitu:
1. Trogloxene adalah organisme yang hidup di dalam gua namun tidak pernah menyelesaikan seluruh siklus hidupnya di dalam gua. Kelelawar salah satu contoh hewan trogloxene.
2. Troglophile adalah organisme yang menyelesaikan seluruh siklus hidupnya di dalam gua, namun individu yang lain dari jenis yang sama juga hidup di luar gua, seperti: salamander, cacing tanah, kumbang dan crustacea .
3. Troglobite adalah organisme gua sejati dan hidup secara permanen di zona gelap total dan hanya ditemukan di dalam gua. Contoh : ikan Amblyopsis spelaeus, Puntius sp, Bostrychus sp.
Zonasi Kehidupan Gua berdasar Cahaya Ekosistem gua
memiliki ciri khas terbatas dengan absennya cahaya matahari, iklim yang hampir seragam, temperatur yang konstan sepanjang tahun dan kelembaban relatif yang tinggi dan konstan. Berdasarkan ketersediaan cahaya matahari, gua memiliki tiga zonasi :
 1. Zona mulut atau zona terang ( entrance zone ). Pada zona ini terdapat cahaya matahari langsung dan iklim gua sangat terpengaruh oleh faktor luar gua.
 2. Zona senja atau zona remang-remang ( twilight zone ) adalah zona dengan cahaya matahari tidak langsung, berupa pantulan cahaya dari zona mulut. Iklim sedikit terpengaruh oleh kondisi luar gua.
 3. Zona gelap total ( dark zone ) adalah zona dimana tidak ada cahaya sama sekali


Kamis, 01 Maret 2012

SEKILAS MENGENAI GUA

Asal-usul Terbentukanya Gua Tanah pada Batuan Kapur
            Beberapa ide muncul yang sehubungan dengan pembentukan gua bawah tanah dimana berkaitan dengan pemikirn seperti: (1) gua dalam tanah berkembang dengan mudah di daerah batas permukaan air melalui aksi diversi permukaan air, (2) sirkulasi mungkin berkembang dibawah permukaan air, tetapi hal ini berakibat tidak nyata pada permukaan cavem, (3) Sebagian dasar dari aliran permukaan akan berperan mengontrol pembentukan cavem ke berbagai arah, (4) erosi dan retakan secara langsung mengikuti garis perkembangan cavem, (5) erosi mekanik mungkin berperan nyata memperbesar cavem, (6) satu tingkat cavem dapat ditinggalkan dibagian dasar sebegai pemotongan (penurunan) ke bawah permukaan lembah yang memungkinkan dan meningkatkan beberapa tahap cavem.

            Deskripsi lain tentang pembentukan gua pada lanform karst ini adalah merupakan hasil dari kelarutan dari berbagai pengaruh luar, khususnya air hujan sehingga akumulasi air permukaan membentuk gua tersebut.
Cave collapse and breakdown:
·         Block breakdown : Tipe runtuhan biasanya pendek dimensi untuk horisontal, cenderung vertikal, bertingkat, arah terentang naik kearah tension dome. Runtuhnya atap atau dinding gua secara besar-besaran, ditandai dengan hasil runtuhan berbentuk blok yang persegi.
·         Slab breakdown : Tipe runtuhan yang berada pada jarak horisontal yang panjang tetapi tingkat vertikal yang terbatas. Disebabkan oleh runtuhnya lapisan tunggal pada atap. Ketebalan irisan tidak beraturan tersebar sepanjang lorong gua.
·         Plate breakdown : disebabkan oleh solution atau hilangnya tekanan plat tipis batugamping.
·         Chip breakdown : pada kasus ini hanya satu fragmen kecil yang runtuh, satu bagian yang flat dan berbentuk serpihan pecahan.



Identifikasi pencirian adanya mulut gua dari interpretasi peta topografi, foto udara

Pola aliran yang terputus, baik aliran periodik maupun aliran semua musim. Bentuk : Swallow hole (hilangnya aliran sungai / air), resurgence (tempat munculnya kembali aliran air ke permukaan, bisa sungai, bisa spring (sumber air/mata air). Ciri morfologi permukaan: dari peta topografi atau foto udara terlihat aliran sungai yang terputus. Untuk swallow hole, aliran air masuk menghilang kebawah permukaan tanah melewati mulut gua. Untuk resurgence dan spring, aliran air muncul dari bawah tanah melewati mulut gua. Scarp, escarpment. Bentuk : resurgence, spring, fosile, Ciri morfologi permukaan : adanya tebing akibat sesar. Pothole, shaft, domepit. Dapat diidentifikasi di lapangan, foto udara. Bentuk : lobang sumuran, celah vertikal. Ciri morfologi permukaan : tidak tentu. Closed depression (uvala, cockpit, doline/ sinkhole). Bentuk: lembah-lembah karst yang tertutup vegetasi lebih lebat atau dengan jenis tumbuhan yang berbeda dengan vegetasi endemis disekitarnya. Selain itu dengan adanya kelelawar, burung sriti, burung walet yang menuju atau dari satu titik daerah tertentu.

Identifikasi pencirian adanya mulut gua dari peta geologi:
·                     Litologi pada jenis batu gamping klastik nan klastik
·                     Struktur geologi yang terlihat nyata (sinklin, antiklin)
·                     Struktur kekar, lapisan, fault regional.

Identifikasi pencirian adanya mulut gua dari sisi lain (orang lain):
·                     Pendeskripsian mengenai apa yang disebut "gua" kepada orang yang dimintai
informasi
·                     Mengerti istilah yang dipakai penduduk sekitar (luweng, song, jumbleng, gua, goa,
guha, umbul, leang, goffre, grotte, cave, al kahfi, shaft, dll)

 

Awan


Awan adalah sekumpulan tetesan air ( kristal es ) di dalam udara di atmosfer yang terjadi karena pengembunan / pemadatan uap air yang terdapat dalam udara setelah melampaui keadaan jenuh. Kondisi awan dapat berupa cair, gas, dan padat karena dipengaruhi oleh suhu.
Awan dibagi menjadi 4, antara lain :
  1. Awan Tinggi
  2. Pada kawasan tropis, awan ini terletak di ketinggian 6 – 18km, pada kawasan iklim sedang, awan ini terletak di ketinggian 5 – 13 km, sedangkan pada kawasan kutub terletak pada 3 – 8 km. Awan yang tergolong sebagai awan tinggi adalah :
    • Awan Cirrus ( Ci )
    • Ciri :
      • Awan ini halus, dan berstruktur seperti serat dan bentuknya mirip bulu burung. Awan ini juga sering tersusun seperti pita yang melengkung di langit, sehingga seakan – akan tampak bertemu pada satu atau dua titik horizon.
      • Awan ini tidak menimbulkan hujan
      • Awan ini terdiri daripada hablor air yang terjadi disebabkan suhu terlalu dingin pada atmosfer
      • Awan cirrus ini ditiupkan angin timuran yang bergelora. Awan ini berwarna putih dengan pinggiran tidak jelas.
    • Awan Cirro Stratus ( Ci – St )
    • Ciri :
      • Bentuknya seperti kelambu putih yang halus dan rata menutup seluruh langit sehingga tampak cerah, bisa juga terlihat seperti anyaman yang bentuknya tidak teratur.
      • Awan ini juga menimbulkan hallo ( lingkaran yang bulat ) yang mengelilingi matahari dan bulan yang biasa terjadi pada musim kering
    • Awan Cirro Cumulus ( Ci – Cu )
    • Ciri :
      • Awan ini bentuknya seperti terputus – putus dan penuh dengan kristal – kristal es sehingga bentuknya seperti sekelompok domba dan sering menimbulkan bayangan.
  3. Awan Menengah
  4. Pada kawasan tropis awan ini terletak pada ketinggian 2 – 8 km, pada kawasan iklim sedang terletak pada ketinggian 2 – 7 km, sedangkan pada kawasan kutub terletak pada ketinggian 2 – 4 km. Yang termasuk dalam awan menengah adalah :
    • Alto Cumulus ( A – Cu )
    • Ciri:
      • Awan ini kecil – kecil, tapi jumlahnya banyak.
      • Awan alto cumulus berwarna kelabu atau putih dilihat pada waktu senja.
      • Biasanya berbentuk seperti bola yang agak tebal.
      • Awan ini bergerombol dan sering berdekatan sehingga tampak saling bergandengan
      • Tiap – tiap elemen nampak jelas tersisih antara satu sama lain dengan warna keputihan dan kelabu yang membedakannya dengan Cirro Cumulus
    • Alto Stratus ( A – St )
    • Ciri:
      • Awan alto stratus berwarna kekelabuan dan meliputi hampir keseluruhan langit.
      • Awan ini menghasilkan hujan apabila cukup tebal. Awan – awan di atas terbentuk pada waktu senja dan malam hari dan menghilang apabila matahari terbit di awal pagi.
  5. Awan Rendah
  6. Awan ini terletak pada ketinggian kurang dari 3km. Yang tergolong awan rendah, antara lain :
    • Awan Strato Cumulus ( St – Cu )
    • Ciri:
      • Awan ini berbentuk seperti bola – bola yang sering menutupi seluruh langit sehingga tampak seperti gelombang. Lapisan awan ini tipis dan tidak menghasilkan hujan
      • Awan ini berwarna kelabu / putih yang terjadi pada petang dan senja apabila atmosfer stabil
    • Awan Stratus ( St )
    • Ciri :
      • Awan ini cukup rendah dan sangat luas. Tingginya di bawah 2000 m.
      • Lapisannya melebar seperti kabut dan berlapis.
    • Awan Nimbo Stratus ( Ni – St )
    • Ciri:
      • Bentuknya tidak menentu dengan pinggir compang – camping.
      • Di Indonesia awan ini hanya menimbulkan gerimis.
      • Awan ini berwarna putih kegelapan yang penyebarannya di langit cukup luas
  7. Awan Udara Naik
  8. Awan ini terletak antara 500 – 1500 m Yang tergolong dalam awan udara naik adalah :
    • Cumulus ( Cu )
    • Ciri :
      • Merupakan awan tebal dengan puncak yang agak tinggi. Terlihat gumpalan putih atau cahaya kelabu yang terlihat seperti bola kapas mengambang, Awan ini berbentuk garis besar yang tajam dan dasar yang datar.
      • Dasar ketinggian awan ini umumnya 1000m dan lebar 1km.
    • Cumulus Nimbus ( Cu – Ni )
    • Ciri :
      • Berwarna putih / gelap
      • Terletak pada ketinggian kira – kira 1000 kaki dan puncaknya punya ketinggian lebih dari 3500 kaki.
      • Awan ini menimbulkan hujan dengan kilat dan guntur. Awan ini berhubungan erat dengan hujan deras, petir, tornado dan badai